Situs Makam Bintang Tengku Joman

Situs Makam Bintang Tengku Joman Sebagai Bukti Sejarah di Lubuk Bendahara


Di kabupaten Rokan Hulu (Rohul), selain memiliki potensi kekayaan yang dapat dijadikan destinasi pariwisata, ternyata juga memiliki sejumlah situs cagar budaya, seperti Makam Raja raja Rambah di Desa Rambah kecamatan Rambah Hilir, Benteng 7 Lapis di Dalu-dalu Kecamatan Tambusai, serta Situs Makam Bintang Tengku Joman di Desa Lubuk Bendahara, Kecamatan Rokan IV Koto.

Makam Bintang Tengku Joman merupakan salah satu bukti sejarah yang masih ada dan tetap terjaga sampai kini. Keberadaanya dilindungi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batu Sangkar, Wilayah Kerja Provisi Sumatera Barat (Sumbar), Riau dan Kepulauan Riau (Kepri),hal itu diakui Kepala Desa Lubuk Bendahara, Yusro Fadli, Rabu (28/2/18).

 yusro fadli mengatakan,makam Tengku Joman atau dikenal makam bintang atau makam tinggi, berada di kawasan pemakaman umat muslim persis berada di depan masjid raya Al Hihad Dusun Kampung Tengah, Desa Lubuk Bendahara, Kecamatan Rokan IV Koto.

“Makam Tengku Joman, merupakan bukti sejarah tahun 1800 an silam. Dari sejarah yang ada, dimana Tengku Joman merupakan salah seorang pembesar Kerajaan Rokan, juga s seorang tokoh pemuka masyarakat yang sangat disegani dan dihormati khususnya di Rokan IV Koto,” kata Fadli.

Bahkan, masyarakat setempat mempercayai bahwa bentuk susunan jirat makam yang sepintas kilas meyerupai bentuk bintang, dimana masing-masing sudutnya mengandung arti filosofi yang melambangkan lima Suku yang mendiami di Desa Lubuk Bendahara.

Dimana kelima suku tersebut, Suku Mandahiling, Melayu Chaniago, Piliang, dan Patapang. Pada puncak jirat terdapat sebuah nisan berbentuk “pattaka” yang di letakkan di tengah-tengah bangunan makam.

“Sesuai informasi dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, bahwa situs Makam Tengku Joman berada di lingkungan pemakaman umum serta perkebunan sawit masyarakat. Terletak di Desa Lubuk Bendahara, Kecamatan IV Koto Rokan, Kabupaten Rohul,  berada di dalam pagar besi dengan ukuran 17,95 meter x 16,65 meter,”.

ungkap Fadli lagi,Bangunan makam Tengku Joman, dikelilingi parit yang lebarnya 2 meter, dimana panjang rata-ratanya 14 meter dan tinggi 55 cm. Dalam pagar makam, tidak hanya makam Tengku Joman, namun juga setidaknya ada 6 makam lainnya yakni satu di bagian utara, dua di bagian selatan, dua bagian barat dan satu di bagian timur makam.

jelasnya lagi,Selain itu jirat makam termasuk unik, dan terdiri dari 3 tingkat dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Jirat terbuat dari susuna batu kali yang masih intact, di jirat pertama/dasar berbentuk segiempat panjang jiratnya 5 meter, jirat yang kedua berbentuk belah ketupat dengan ukuran panjang 3,25 meter, lebar 3,20 meter dan tinggi 0,28 meter.

Sedangkan jirat ketiga berada paling atas dengan bentuk segiempat mempunyai panjang 1,92 meter, lebar 19,2 meter dan tinggi 0,23 meter. Nisan makam terbuat dari batu granit warna abu-abu kehitaman. Nisan kepala dan nisan kaki memiliki ukuran yang hampir sama. Nisan berukuran tinggi 25 centi meter, diameter 10 centi meter.

sementara itu pemuda setempat Hajrul Aswad dan Lukman hakim juga mengatakan, bahwa awal sejarah adanya Desa Lubuk Bendara, saat itu masuh kampung yang dihuni warga dari kampung Dalam. Dimana kampung itu, merupakan warga Bungo Tanjung yang ada di seberang sungai Rokan dan kini Desa Lubuk Bendahara Timur, Kecamatan Rokan IV Koto.

Saat itu, anak Datuk Bendahara hilang di Sungai Rokan. Saat itu dibawa ibunya yang tengah mencuci kain. Dari sejarah dan kepercayaan, anak Datuk Bendahara dibawa Ula Bidai.

“Ketika itu, Datuk Bendahara bermimpi. Dikatakan dalam mimpi, agar anaknya diganti taka (guci) omeh (emas), dengan syarat taburkan darah kobou (kerbau) putih. Setelah itu, Datuk Benmdarmenaburkan darah kerbau, namun diganti minyak kayu ubah. Tepat  jam 11 siang. keluarlah Taka omeh, kemudian diikat dengan tali ijok dengan syarat tidak boleh dibicarakan ke orang,”

“Saat itu, Datuk bendahara bercerita ke orang-orang, sehingga marahlah Ula Bidai dan disepklah Taka Omeh yang digantung tali ijok di bawah rumah panggung, sehingga akhirnya Datuk Bendara pindah ke seberang dan menjadi Kampung serta jadi nama Desa Lubuk Bendahara,” terang Hajrul Aswad dan Lukman hakim.

tambah kades lagi,sejauh ini masih banyak tempat sejarah- sejarah dan objek wisata lainnya, namun hingga kini belum tertata dan tergarap. Namun dirinya menyatakan, secara bertahap akan memaksimalkan situs cagar budaya yang ada termasuk kekayaan alam di desanya kedepannya bisa dikelola sebagai objek wisata.

karena, untuk mengarap objek wisata butuh dana yang besar. Kita akan bertahap programkan itu, karena dampak pengembangan sektor wisata akan meningkatkan PAD desa dan ekonomi masyarakat tempatan.